Selasa, 06 Juni 2017

Kesembilan



Kecewa Dalam Rindu
Kecewa saat mengingatmu
Kejadian itu membuat aku berpikir
Betapa bodoh diriku dipermainkanmu
Habis kata kata yang aku punya
Hingga napasku berembus begitu dalam
Sesak sekali

Aku mengambil secangkir kopi
Duduk termangu
Menatap jendela yang dipenuhi tetes air hujan
Malam ini
Aku habiskan untuk merindumu
Bukan ingin mengelak
Juga bukan karena munafik
Tapi itu benar
Kembali berputar rekaman suaramu
Teringat saat-saat indah denganmu
Percakapan yang kita jalin begitu manis
Namun aku memilih pergi
Tutur katamu telah melumpuhkan sabarku
Bukan kejujuran yang kejam
Kamu yang membuat jujur itu terasa menyakitkan

Seperti itu aku merindumu
Yang aku dapat hanya serpihan rasa sakit
Hujan semakin deras
Seiring dengan air mata dipipiku

Ramai dan sunyi
Ramai
Bukan! Tidak ada orang disini selain aku
Ramai
Ya! Pikiranku sedang ramai karena perdebatan
Debat hebat antara otak dan hatiku
Otak ini berkata sampai kapan kau akan disini? Lebih baik pergi saja
Sedangkan hati ini berteriak kau harus tetap disini, dia akan kembali
Selalu begitu
Tanpa jawaban

Otak dan hati itu terus bertengkar
Tapi aku tak bisa apa apa
Ketika jantung berdetak kencang
Peluh bercucuran bersama air mata
Tubuhku tak berdaya

Siapa yang harus mengakhiri semua ini?
Aku tak bisa sendiri
Siapapun tolong aku!
Keluarkan aku dari sini
Aku terjebak dalam jurang kerinduan ini
Aku butuh dia
Terlalu lelah menunggunya
Apakah dia akan kembali untukku?

Terpisah jarak yang jauh
Waktu yang lama
Dan kenangan yang tak berujung
Aku yakin
Dia akan hentikan penantian ini
Dan datang padaku
Semoga saja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kesepuluh

Kehidupan Tentang napas yang berhembus Jantung yang berdetak Dan darah yang mengalir Selama kaki masih bisa melangkah Mulut m...