Selasa, 06 Juni 2017

Kesepuluh



Kehidupan
Tentang napas yang berhembus
Jantung yang berdetak
Dan darah yang mengalir
Selama kaki masih bisa melangkah
Mulut masih bisa berucap
Dan tangan yang masih bisa berbagi
Saat itu manusia seharusnya bersyukur

Sang surya mulai memancarkan cahayanya
Nyanyian burung mengalun indah
Semilir angin merasuk dalam nadi
Rerumputan yang menari itu
Lengkap sudah lukisan pagi ini
Mereka juga hidup

Lalu apa yang harus manusia lakukan?
Manusia hanya bisa mematikan bukan?
Bukan
Itu hanya dilakukan oleh manusia bodoh
Diberi kehidupan
Tapi ia tidak bisa menjaga kehidupan lain
Lalu apa yang harus manusia lakukan?
Mengapa kau bertanya padaku?
Apakah manusia hanya harus menjaga?
Tidak
Lebih dari itu


Guru
Tiada kata lelah bagimu
Tak pernah sekalipun mengeluh
Diusia senja ini
Kau tetap semangat mengajar untuk kami

Dari hari ke hari
Sampai kami lulus nanti
Jasamu akan kami kenang selalu
Sebab kami bukan apa apa tanpamu

Terukir namamu pahlawan
Pahlawan tanpa tanda jasa
Mencerdaskan anak bangsa
Dalam pengabdian untuk negara

Maaf bila kami sesekali membantah
Tapi kau tak pernah menyerah dan sabar
Ingatkan kami untuk rajin belajar
Demi masa depan yang gemilang

Terima kasih guru
Untuk segala pengorbananmu
Seluruh cinta dan kasihmu pada kami
Tercurahkan bagai orang tua kami sendiri

Kami selalu berdoa untukmu
Semoga kau sehat selalu
Sampai kita berjumpa nanti
Kami akan jadi orang yang berarti

Kesembilan



Kecewa Dalam Rindu
Kecewa saat mengingatmu
Kejadian itu membuat aku berpikir
Betapa bodoh diriku dipermainkanmu
Habis kata kata yang aku punya
Hingga napasku berembus begitu dalam
Sesak sekali

Aku mengambil secangkir kopi
Duduk termangu
Menatap jendela yang dipenuhi tetes air hujan
Malam ini
Aku habiskan untuk merindumu
Bukan ingin mengelak
Juga bukan karena munafik
Tapi itu benar
Kembali berputar rekaman suaramu
Teringat saat-saat indah denganmu
Percakapan yang kita jalin begitu manis
Namun aku memilih pergi
Tutur katamu telah melumpuhkan sabarku
Bukan kejujuran yang kejam
Kamu yang membuat jujur itu terasa menyakitkan

Seperti itu aku merindumu
Yang aku dapat hanya serpihan rasa sakit
Hujan semakin deras
Seiring dengan air mata dipipiku

Ramai dan sunyi
Ramai
Bukan! Tidak ada orang disini selain aku
Ramai
Ya! Pikiranku sedang ramai karena perdebatan
Debat hebat antara otak dan hatiku
Otak ini berkata sampai kapan kau akan disini? Lebih baik pergi saja
Sedangkan hati ini berteriak kau harus tetap disini, dia akan kembali
Selalu begitu
Tanpa jawaban

Otak dan hati itu terus bertengkar
Tapi aku tak bisa apa apa
Ketika jantung berdetak kencang
Peluh bercucuran bersama air mata
Tubuhku tak berdaya

Siapa yang harus mengakhiri semua ini?
Aku tak bisa sendiri
Siapapun tolong aku!
Keluarkan aku dari sini
Aku terjebak dalam jurang kerinduan ini
Aku butuh dia
Terlalu lelah menunggunya
Apakah dia akan kembali untukku?

Terpisah jarak yang jauh
Waktu yang lama
Dan kenangan yang tak berujung
Aku yakin
Dia akan hentikan penantian ini
Dan datang padaku
Semoga saja

Kesepuluh

Kehidupan Tentang napas yang berhembus Jantung yang berdetak Dan darah yang mengalir Selama kaki masih bisa melangkah Mulut m...